Lahan Beresiko

Indonesia menyadari sebagian besar emisi karbon yang dikeluarkan berasal dari pembukaan hutan khususnya hutan yang berada di atas lahan gambut. Hal ini mendorong Indonesia untuk mencoba REDD+, sebuah skema global yang bertujuan untuk memperlambat perubahan iklim dengan memberikan kompensasi bagi negara-negara berkembang untuk melindungi hutan mereka. Namun REDD+ tidak semata upaya pengurangan emisi. Penerapan REDD+ juga bermaksud memberikan pilihan tentang bagaimana memetik manfaat dari hutan tanpa menebang pohon yang ada.

Beberapa kawasan hutan di Indonesia telah mengalami degradasi lahan yang cukup parah hingga tidak lagi mampu mendukung keberlangsungan kehidupan diatasnya. Tidak hanya keadaan fisik kawasan yang berubah namun juga kehidupan masyarakat sekitar. Perubahan mata pencaharian, relokasi warga hingga konflik antara warga-pembuka lahan mengiringi masalah lingkungan seperti hilangnya habitat orangutan, masuknya kawanan hewan liar ke kawasan penduduk dan berkurangnya sumber air. Penyebabnya beragam namun semua berawal dari pembukaan lahan berhutan yang tak terkendali.

Pada kawasan atau lahan yang telah rusak dan terdegradasi inilah, diperoleh kesempatan untuk menerapkan hasil penelitian maupun teori dalam upaya pemulihan ekosistem maupun upaya memitigasi perubahan iklim seperti REDD+. Penerapan REDD+ pada lahan-lahan berisikoLahan berisiko yaitu luasan lahan yang karena akibat alami atau sosial (antropogenik) berpotensi menjadi penyebab pelepasan karbon atau gas rumah kaca tak terkendali. ini selain memenuhi syarat pengurangan degradasi hutan juga membantu Indonesia dalam menangani lahan yang telanjur terdeforestasi. Termasuk diantaranya juga rehabilitasi kawasan, membantu penghidupan masyarakat setempat serta penguatan tata kelola kawasan, hutan khususnya. Tentu saja tujuan Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 26/41 menuntut REDD+ dilaksanakan tidak hanya di kawasan yang terdegradasi. REDD+ juga harus dijalankan untuk mengurangi tekanan deforestasi pada fragment-fragment hutan utuh yang masih terselamatkan.

Restorasi Lahan Gambut

Salah satu penyimpan karbon terbesar didunia adalah lahan gambut. Indonesia memilikinya di ketiga pulau terbesar yaitu, Sumatera, Kalimantan dan Papua. Namun pelepasan karbon di lahan gambut juga terjadi berkali lipat daripada tanah bermineral. Hal ini terjadi jika lahan gambut mengalami gangguan seperti dikeringkan atau di buka tutupan hutan diatasnya dengan tujuan misalnya untuk alih guna lahan.

Alih guna atau konversi besar-besaran lahan gambut menyebabkan kerusakan pada lahan gambut dan terus-menerus mengeluarkan emisi. Oleh karena itu restorasi lahan gambut dapat menjadi prioritas program pengurangan emisi dan juga sekaligus mengembalikan fungsi ekologis lahan gambut.Dalam Strategi Nasional REDD+ disebutkan bahwa rehabilitasi dan konservasi lahan gambut sebagai sarana/cara utama untuk mencapai tujuan penanggulangan isu iklim Indonesia. Kegiatan pengurangan emisi dari deforestrasi dan degradasi dari lahan gambut yang terkonversi hanya dapat dimungkinkan melalui kombinasi dari mencegah drainase dan degradasi lahan gambut lebih jauh dan membasahi lahan gambut yang terdrainase dan telah terdegradasi. Secara legal, konservasi lahan gambut telah diatur dalam Keputusan Presiden No.32/1990 tentang kawasan lindung. Beberapa proyek restorasi lahan gambut yang telah dilaksanakan terlampir pada tabel dibawah ini. {metatable type=[projects] show=[ALL] max_results=[20]} restorasi gambut {/metatable}

Lahan gambut adalah suatu ekosistem dimana (dibawah kondisi jenuh air secara permanen) bahan tanaman mati dan yang telah/tengah mengalami perombakan (decay) terakumulasi untuk membentuk sebuah lapisan tanah yang tebal organik (gambut).Kementerian Kehutanan (Permenhut P69/Menhut-II/2011) mendefinisikan gambut sebagai satu formasi pohon-pohon yang tumbuh pada kawasan yang sebagian besar terbentuk oleh sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam jangka waktu lama. Rata-rata per hektar karbon tanah menyimpan 10 x lebih besar dari hutan tropis yang masih utuh. Hal ini membuat lahan gambut menjadi tempat penyimpanan (reservoir) karbon yang paling penting dan sangat terkonsentrasi di darat.Dalam hutan rawa gambut alami, selain sebagai produsen, hutan memfasilitasi kondisi basah untuk pembentukan gambut, penyerapan dan penyimpanan karbon. Pengeringan dan konversi gambut akan membuatnya melepaskan karbon gambut lebih cepat daripada yang telah diserapnya (sequester). Emisi yang dihasilkan dari hutan rawa gambut yang dikonversi menjadi dan digunakan sebagai perkebunan (termasuk tindakan deforestrasi dan drainase) dengan menggunakan asumsi siklus tegakan 25 tahun akan dikeluarkan hingga puluhan tahun berikutnya atau bahkan lebih lama lagi.Lahan Gambut dalam National REDD+ Strategy Indonesia, 2011

Namun informasi lengkap ekosistem lahan gambut belum tersedia. Seberapa kedalaman gambut, berapa luasnya dan spesies apa saja yang bergantung padanya masih belum terjawab. Pengumpulan data dasar mengenai lahan gambut sedang dilakukan oleh berbagai pihak khususnya yang terkait dengan jumlah emisi karbon yang dapat disimpan dan dilepaskan lahan gambut. Informasi yang terkumpul akan berguna bagi penyelamatan lahan gambut yang telah rusak maupun mempertahankan lahan gambut yang masih utuh. Ini secara tidak langsung juga membantu upaya Indonesia untuk memenuhi target pengurangan emisi sebesar 26% dari tingkat business-as-usual pada tahun 2020.

Berikut ini beberapa sumber terkait lahan gambut di Indonesia.

membagi informasi ini:

Jadwal Kegiatan

Informasi Kontak

Telepon: +62 (21) 2500811
Faximili: +62 (21) 2500822
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Situs Web: www.reddplus.go.id

Kantor Utama

Jl. Ir. H. Juanda No. 36
Jakarta Pusat - 10120, Indonesia

Kantor Operasional

Mayapada Tower II Lt. 14
Jl. Sudirman Kav. 27, Jakarta Selatan - 19210 Indonesia

Jejaring Sosial