Sungai Tohor Mimpikan Hutan Desa

Dua warga Desa Sungai Tohor sedang melihat bibit pohon sagu yang ditanam Presiden Joko Widodo di sela blusukannya di Sungai Tohor pada 27 November 2014. Bibit ini menjadi lambang pengharapan bagi masyarakat untuk memiliki hutan sagu masyarakat dan hutan desa yang kini sedang dipersiapkan oleh warga Desa Sungai Tohor, Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. (Foto: Leo Wahyudi S)

Belakangan ini kedamaian warga di Desa Sungai Tohor agak terusik. Desa asri di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, ini mulai resah. Pasalnya, keberadaan perusahaan dengan izin Hutan Tanaman Industri (HTI), PT Lestari Unggul Makmur (LUM), sudah mengusik lahan gambut yang sudah dijaga dan dipelihara warga selama puluhan tahun.

Sejak 2009, LUM telah membuat kanalisasi lahan bergambut untuk dikonversi ke tanaman akasia. Areal konsesinya 10.390 hektar. Menurut penuturan warga, LUM telah membuat kanal kurang lebih sedalam 6 meter, lebar 10 meter, sepanjang 10 kilometer. Kontan kanalisasi ini memancing konflik sosial yang berujung pada penolakan PT LUM. Akibatnya, lahan itu ditinggalkan tanpa pernah dimanfaatkan sejak 2009.

"Habislah air kami. Satu kanal bisa menyedot air gambut radius 7 kilometer. Padahal kami memerlukan air itu untuk mengilang, memanen, dan menumbuhkan pohon sagu," kata Ridwan, salah satu warga dan pegiat lingkungan di Desa Sungai Tohor. Lahan gambut yang kering itu akhirnya menyebabkan kebakaran hutan di lokasi yang berbatasan antara konsesi PT LUM dan lahan masyarakat Sungai Tohor seluas kurang lebih 5.000 hektar pada Februari 2014 lalu.

"Warga di sini juga yang ikut memadamkan api siang dan malam waktu itu. Kalau tidak, maka api akan merembet ke perkebunan kita semua. Tak ada satupun dari pihak perusahaan yang membantu memadamkan," Sudirman, salah seorang warga yang juga ikut memadamkan api dengan alat seadanya.

Isu REDD+

Kebakaran gambut dan kerusakan lingkungan akibat kehadiran LUM semakin menguatkan perjuangan Ridwan untuk menjaga dan menyelamatkan lingkungan Desa Sungai Tohor. Ia kini berinisiatif melakukan pembibitan kayu alam, seperti misalnya kayu punai, meranti, gronggang, jelutung, suntai.

"Kayu itu mudah ditanam, tapi tergantung pada musim. Prosesnya pun panjang," katanya. Kayu alam ini nantinya akan ditanam di tengah kebun sagu masyarakat. Dengan demikian, akan makin banyak air yang dapat disimpan oleh kayu alam tersebut sehingga lahan gambut akan tetap basah.

Ridwan juga telah melakukan pembibitan sendiri jenis-jenis kayu alam tersebut. "Tapi ini masih uji coba. Saya perlu bimbingan teknis agar hasilnya bagus," katanya. Ia bahkan sudah membentuk Kelompok Masyarakat Peduli Hutan yang masih beranggotakan 10 orang.

"Sagu terbaik ada di sini dengan pengelolaan yang baik dari masyarakat dan tidak monokultur. Kayu alam itu akan menjadi penahan air," kata Helfandi, Camat Tebing Tinggi Timur. "Kalau konsesi LUM dicabut dan dikembalikan ke masyarakat, kami akan minta areal itu dijadikan hutan desa," kata Helfandi.

Melihat permasalahan semacam itu, Ridwan, didukung seluruh masyarakat dan aparat desa, juga ingin melakukan pemetaan partisipatif. Pemetaan ini nantinya akan memperkuat posisi masyarakat kalau Sungai Tohor punya hutan desa. Rencana hutan desa ini sedang dipersiapkan oleh masyarakat.

Terkait rencana pemetaan ini, Helfandi sudah menginstruksikan pemetaan partisipatif dimulai di 3 Desa, yaitu Sungai Tohor, Sungai Tohor Barat, dan Nipah Sendanu. Menurut Ridwan seharusnya REDD+ berperan. "Saya sudah baca-baca tentang REDD+. Tapi selama ini masyarakat tidak pernah dilibatkan. Padahal kami yang tahu tentang hutan kami," katanya. Ia juga menambahkan bahwa BP REDD+ punya peranan penting dalam pemetaan wilayah adat Sungai Tohor ini.

"Saya khawatir dana REDD+ ini hanya sampai di Monas bukan sampai di Minas (sebuah kecamatan di Kabupaten Siak, Riau-edt.)," katanya sambil berharap BP REDD+ mau mendukung pemetaan ini.

Selain itu, Camat Helfandi juga memerintahkan agar 6 Desa memiliki sekat kanal gambut secara swadaya dulu untuk menjaga lahan gambut dan sagu serta mencegah kebakaran hutan dan lahan. Ia bahkan meminta kepala desa untuk mencari titik koordinat kanal yang akan dibuat dam permanen sehingga air gambut di Tebing Tinggi Timur tidak langsung lepas ke laut.***

membagi informasi ini:

Jadwal Kegiatan

Informasi Kontak

Telepon: +62 (21) 2500811
Faximili: +62 (21) 2500822
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Situs Web: www.reddplus.go.id

Kantor Utama

Jl. Ir. H. Juanda No. 36
Jakarta Pusat - 10120, Indonesia

Kantor Operasional

Mayapada Tower II Lt. 14
Jl. Sudirman Kav. 27, Jakarta Selatan - 19210 Indonesia

Jejaring Sosial