Submisi Indonesia Tentang Tingkat Emisi Rujukan Deforestasi dan Degradasi Hutan Dalam Kerangka REDD+

National Forest Reference Emission Level for Deforestation and Forest Degradation in the Context of Decision 1/CP. 16 (REDD+) under UNFCCC

Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup maju dalam pelaksanaan skema REDD+. Sesuai Kesepakatan dalam Konferensi Para Pihak Kerangka Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (COP-UNFCCC) ke-16 di Cancun, negara berkembang didorong untuk melaksanakan mitigasi perubahan iklim melalui satu/lebih dari lima kegiatan REDD+ yaitu : pengurangan Emisi dari deforestasi, pengurangan emisi dari degradasi Hutan, konservasi cadangan carbon, pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan cadangan carbon hutan). Sesuai kesepakatan COP-17 di Durban, maka sebagai basis untuk mengukur kinerja pelaksanaan REDD+ diperlukan adanya tingkat emisi rujukan/tingkat rujukan (Forest Reference Emissions Level/Forest Reference Level (FREL/FRL)).

Berdasarkan Keputusan COP-17 pula, negara yang melaksanakan REDD+ perlu menyampaikan FREL/FRL ke Sekretariat UNFCCC untuk dilakukan penilaian teknis (Technical Assessment) oleh Tim Ahli UNFCCC berdasar arahan Keputusan COP-19. Batas submisi FREL/FRL untuk tahun 2014 adalah 8 Desember. Mempertimbangkan ketersediaan data, kapasitas dan kapabilitas serta kondisi nasional, Keputusan COP-17 juga memberikan fleksibilitas pendekatan bertahap (stepwise approach) dalam submisi FREL/FRL terkait dengan skala (nasional-sub nasional), kegiatan REDD+, carbon pools dan gas/GRK yang dimasukkan.

Atas dasar hal-hal tersebut di atas, Indonesia melalui Tim yang dikoordinasikan oleh Badan Pengelola Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan dan lahan Gambut (BPREDD+) telah menyusun Draf Submisi FREL Indonesia dengan judul “National Forest Reference Emission Level for Deforestation and Forest Degradation in the Context of Decision 1/CP. 16 (REDD+) under UNFCCC”. Tim penyusun terdiri dari para ahli yang berasal dari BPREDD+, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, LAPAN, BIG, IPB, CIFOR, UNORCID, dan TNC.

Sesuai dengan persyaratan penyusunan FREL/FRL dan memperhatikan fokus dari technical assessment yang meliputi tiga hal yaitu : data, metodologi dan posedur, maka dari kelima kegiatan REDD+ di atas, baru dua kegiatan yang dapat dimasukkan dalam submisi FREL yaitu deforestasi dan degradasi hutan; dengan satu jenis gas (~CO2) dan dua carbon pools yaitu : biomas di atas tanah dan tanah untuk areal gambut.

Mempertimbangkan ketersediaan data dan persyaratan atas data yang dipakai untuk skala nasional (ketersediaan, kelengkapan, transparansi, konsistensi dll dari data tutupan lahan dan cadangan carbon per tipe hutan), maka data yang dipakai untuk penghitungan FREL adalah data mulai tahun 2000-2012, yang berasal dari beberapa sumber yaitu : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, LAPAN, BIG, BPREDD+, dan sumber-sumber lain. Dengan kerangka waktu selama 12 tahun tersebut telah mencukupi untuk menangkap dinamika kebijakan dan pemicu terjadinya deforestasi dan degradasi hutan.

Dari hasil penghitungan dan analisis hasilnya, maka didapatkan bahwa laju deforestasi historis (2000-2012) sebesar 671,420 ha/tahun yang berasal dari lahan mineral sebesar 525,516 ha/tahun dan lahan gambut sebesar 145,904 ha/tahun; sedangkan laju degradasi hutan sebesar 425,296 ha/tahun yang berasal dari lahan mineral sebesar 409,073 ha/tahun dan lahan gambut sebesar 16,223 ha/tahun.

Rata-rata emisi historis (2000-2012) dari deforestasi sebesar 210 MtCO2e per tahun, yang berasal dari lahan mineral sebesar 169 MtCO2e per tahun dan lahan gambut sebesar 41 MtCO2e per tahun. Disamping itu terdapat tambahan emisi dari dekomposisi gambut akibat deforestasi dari 3,3 MtCO2e per tahun (2000 – 2001) menjadi 61.7 MtCO2e per tahun (2011 – 2012). Dari degradasi hutan, emisi historis (2000-2012) sebesar 57.2 MtCO2e per tahun, yang berasal dari lahan mineral sebesar 55.4 MtCO2e per tahun dan lahan gambut sebesar 1.8 MtCO2e per tahun. Emisi tambahan dari dekomposisi gambut akibat degradasi hutan sebesar 97 MtCO2e per tahun (2000 – 2001) menjadi 75 MtCO2e per tahun (2011 – 2012).

Dengan proyeksi sederhana, emisi dari deforestasi dan degradasi hutan sampai tahun 2020 sama dengan rata-rata per tahun emisi historis 2000-2012 dan emisi dari dekomposisi gambut yang memasukkan inherited emissions, maka Tingkat Emisi Rujukan (FREL) untuk deforestasi dan degradasi hutan Indonesia sebesar 0,441 GtCO2e per tahun pada tahun 2020, dengan laju deforestasi sebesar 0,671 juta ha per tahun dan degradasi hutan sebesar 0,425,296 ha per tahun.

REDD+ sesuai konsepnya dapat berkontribusi dalam penurunan laju deforestasi. Bila upaya tersebut berhasil, pada saatnya Indonesia akan bergeser dari net-emitter (emisi > serapan) menjadi net-sink (emisi < serapan), dengan tetap dapat meneruskan pembangunan dalam konteks pembangunan rendah emisi dan tahan terhadap perubahan iklim (low emissions and climate resilient development path). Hal tersebut didukung dengan data bahwa untuk keperluan pembangunan baik di dalam maupun di luar sektor kehutanan, masih cukup tersedia lahan hutan yang dapat digunakan tanpa harus mengkonversi hutan alam.

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa untuk submisi pertama ini masih berfokus pada FREL- deforestasi dan degradasi hutan, belum memasukkan tiga kegiatan REDD+ lainnya yaitu : konservasi, pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan cadangan carbon, karena data yang tersedia belum dapat memenuhi persyaratan untuk keperluan penilaian teknis (technical assessment) sesuai arahan COP yang telah disepakati pada COP-19 di Warsaw. Namun demikian, data yang terkait “removals/gain” dari kegiatan konservasi, pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan cadangan carbon melalui tanam-menanam, akan masuk dalam “Update dua tahunan tentang inventarisasi GRK seluruh sektor (Biennial Update Report – Green House Gas Inventory/BUR)”, dimana Indonesia juga akan menyampaikan submisi “BUR-GHGI” pada tahun 2014. Submisi FREL dan BUR-GHGI dalam waktu yang bersamaan (tahun yang sama) akan memudahkan penilaian/analisis keduanya oleh Tim Ahli Sekretariat UNFCCC karena adanya persyaratan untuk memastikan konsistensi antara ‘FREL’ dengan ‘emisi/serapan’ yang tercantum dalam Green House Gas Inventory.

Data ketiga kegiatan (plus dari REDD+) yang tercantum dalam BUR-GHGI pada saatnya dapat ditingkatkan lebih lanjut baik kelengkapan maupun kualitasnya untuk dapat digunakan dalam ‘updating’ FREL/FRL di masa mendatang. Penjelasan tentang Opportunity for improvement (Bab 7) menggambarkan tentang proses yang berlangsung akan bermanfaat untuk keperluan pemutakhiran FREL/FRL.

PENJELASAN YANG DIPERLUKAN DALAM DOKUMEN FREL
SESUAI KESEPAKATAN COP-19 UNFCCC DI WARSAW TAHUN 2013

NO
ELEMENT PERTANYAAN
PENJELASAN DALAM DOKUMEN FREL
1 Seberapa jauh FREL konsisten dengan emisi dan serapan yang tercantum dalam inventarisasi GRK nasional yang berasal dari hutan dan lahan (LULUCF) Konsistensi data telah dijaga dengan data yang digunakan dalam Sistem Inventarisasi GRK Nasional (SIGN), Biannual Update Report on GHGs Inventory (BUR)
2 Bagaimana data historis digunakan dalam pembangunan FREL Bab 4. Data, Methodology and Procedures plus Annex 1-3
3 Seberapa jauh informasi yang disediakan transparan, lengkap, konsisten dan akurat, termasuk informasi tentang metodologi, deskripsi data sets, pendekatan, metode, model bila digunakan (dan asumsi yang digunakan), serta apakah FREL adalah FREL nasional atau lebih kecil (dalam kasus Indonesia sub-nasional) Bab 4. Data, Methodology and Procedures plus Annex 1-3
4 Apakah deskripsi kebijakan dan rencana terkait tersedia Bab 6. Description of policies and plans and their implications to the constructed Forest Reference Emission Level (FREL)
5 Untuk updated FREL, apakah deskripsi tentang perubahan terhadap FREL yang di-submit sebelumnya tersedia Tidak ada karena baru submisi pertama
6 Pools dan GRK, dan kegiatan (salah satu/beberapa/semua kelima cakupan kegiatan REDD+) yang dimasukkan dalam FREL/FRL, dan justifikasi kenapa pools dan kegiatan yang tidak dimasukkan tersebut dianggap tidak signifikan BAB 3. Area and Activities Covered (area, activities, pools and gases)
7 Apakah definisi hutan yang digunakan untuk membangun FREL tersedia, dan bila berbeda dengan definisi yang digunakan dalam inventarisasi GRK nasional atau dengan yang dilaporkan pada organisasi internasional lainnya, mengapa dan bagaimana definisi tersebut dipilih Bab 2. Definitions used (forest, deforestation, forest degradation, peat land, FREL)
8 Seberapa jauh nilai/angka FREL konsisten dengan informasi dan deskripsi yang disediakan oleh negara yang bersangkutan
  • Hasil penghitungan FREL di Bab 5. Results of the Construction of Forest Reference Emission Level (FREL)
  • Konsistensi akan dijaga dengan pelaporan lain : SIGN, BUR, National Communication
9 Informasi tambahan yang relevan (opsional) Bab 7. Opportunity for improvement, untuk menginformasikan work in progress yang akan bermanfaat untuk update FREL

Dokumen Final Submisi Indonesia tentang Tingkat Emisi Rujukan Deforestasi dan Degradasi Hutan (FREL) dalam Kerangka REDD+ bisa diunduh di link berikut FREL Desember 2014

membagi informasi ini:

Jadwal Kegiatan

Informasi Kontak

Telepon: +62 (21) 2500811
Faximili: +62 (21) 2500822
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Situs Web: www.reddplus.go.id

Kantor Utama

Jl. Ir. H. Juanda No. 36
Jakarta Pusat - 10120, Indonesia

Kantor Operasional

Mayapada Tower II Lt. 14
Jl. Sudirman Kav. 27, Jakarta Selatan - 19210 Indonesia

Jejaring Sosial